Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Saturday, March 17, 2012

6 (Enam) Amalan Penolak Bala

Doa Tolak Bala Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Hidup ini tidak seindah yang dibayangkan. Banyak hal yang tidak terduga menghampiri hidup kita. Kepahitan dan kegetiran adalah warna yang memoles lembar kehidupan manusia. Meski sesungguhnya bagi orang yang beriman dunia ini adalah surga tak berperi dengan kenikmatan dan keelokannya yang tidak bertepi.

Untuk kita yang saat ini sedang dalam kubangan musibah ada baiknya kita mencoba menyisir jalan kebaikan berikut ini. Atau, kita yang sedang dihantui kegagalan, inilah amalan yang menghibur untuk menolak berbagai kemungkinan bala.

Pertama, melazimkan doa. Orang yang terbiasa dengan berdoa akan mengalir sebuah kekuatan yang mampu menjadikan dirinya tegar. Bahkan, doa adalah sebuah proteksi ampuh menstabilkan kondisi hati dengan berbagai macam keadaannya.

Disebut oleh Nabi Muhamad SAW, "Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa." (HR. Ahmad). Bahkan, ada doa yang langsung dari Allah untuk menuntun kita terhindar dari berbagai ujian, musibah, dan bala. "Duhai Allah jangan sekali-kali Engkau uji kami di luar batas kemampuan kami." (QS al-Baqarah [2]: 286).

Kedua, kesungguhan takwa. Banyak disebut oleh berbagai ayat bahwa kesungguhan dan keseriusan dalam ketakwaan mengantarkan ketangguhan spiritual dalam menyelesaikan setiap kesulitan hidup. Ini artinya semangat takwa menghindarkan sebuah peristiwa buruk dalam hidup mausia. "Siapa yang bertakwa maka Allah jadikan baginya jalan keluar. Dan Allah karunia kan rezeki dari arah tak terduga. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah maka akan dicukupkan (nikmat dan kebutuhannya)..." (QS al- Thalaq [65]: 2-3).

Ketiga, ridha orang tua. Setelah kita tegak dengan nilai-nilai Langit seperti disebut oleh dua poin di atas, saatnya kita mengumpulkan energi dari bumi. Dan, kita perlu memulainya dari bilik kedua orang tua kita. Doa dan restu mereka yang pada urutannya mengantarkan kepada sejuta kebaikan, yang kita unduh tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Keramat terampuh di dunia ini tidak lain doa dan restu orang tua. "Rida Allah ada pada rida orang tua dan murka-Nya ada pada murka kedua orang tua," demikian sabda Nabi Muhammad SAW riwayat al-Hakim.

Keempat, sedekah. Keutamaan sedekah sudah banyak yang menyebutkan. Bahkan, secara terang sebuah hadis mengisyaratkan, "Sedekah itu benar-benar menolak bala." (HR. Thabrani dari Abdullah ibnu Mas'ud). Karena, agama adalah amal. Maka, nikmat dan kelezatan beragama akan berasa jika kita benar-benar mengamalkan. Karena itu, saatnya kita buktikan dengan amal nyata. Kita bersedekah pasti ada proteksi bala yang langsung Allah desain.

Kelima, istighfar. "Kami tidak akan turunkan azab bencana selama mereka masih beristighfar." (QS al-Anfal, 8: 33). Berikutnya, silaturahim, berdzikir, dan shalawat. Terkait dengan dzikir, disebut oleh Nabi SAW, "Petir menyambar siapa pun, tetapi petir tidak akan menyambar orang yang sedang berzikir."

Terakhir, keenam, senantiasa berbuat baik. Kebaikan yang kita tebarkan di bumi adalah kebaikan untuk kita yang Allah gelontorkan dari langit (QS ar- Rahman [55]: 60). Wallahu a'lam.


Sumber: www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/03/17/m103g8-inilah-amalan-penolak-bala
Continue Reading...

Tuesday, March 13, 2012

Menguap VS Bersin dalam Islam

Anak Bersin

"Hoaaaaaaammmm.....". Rasya menguap lebar.

"Aduh, kamu kalo menguap ya di tutup donk dek." Protes Sabil pada adiknya.

"Kenapa sih Kak ? Masalah sepele ajah kok di bikin ribut, aku kan cuma menguap Kak." Tak mau kalah dengan sang kakak, Rasya pun membela diri.

"Ck ck ck... dek, kamu pernah dengar tidak kalau Allah itu tidak suka dengan menguap?" Tanya Sabil

Dengan rasa heran, Rasya menjawab, "Kayaknya aku pernah dengar deh Kak."

Sabil tersenyum mendekati adiknya yang kebingungan, "zaman sekarang banyak kebiasaan kecil yang luput dari perhatian kaum muslim, masalah kebiasaan yang sebenarnya telah di ajarkan Rasulullah sebagai tauladan terbaik kita, termasuk masalah menguap tadi."

"Terus Kak ?" Tanya Rasya bersemangat.

"Dalam hadits di sebutkan "Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin [1]."

"Jadi, walaupun tidak tahan ingin menguap lebar, sebaiknya di tutup gitu Kak ?"

"Nah, itu kamu tahu, terus kenapa kamu tidak menutup mulutmu ?"

"Hehehe, aku pikir itu hanya masalah sepele Kak."

"Itu dia, banyak orang tidak memperhatikan masalah ini. Memang terlihat sepele tapi dalam Islam hal sepele pun sudah diatur dengan sebaik-baiknya. "Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdulillah’). Dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya. Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya [2]." Sabil menjelaskan panjang lebar.

"Wuih, serem ya Kak, di ketawain ma setan." Kata Rasya sambil bergidik.

"Iya dek, padahal menurut kakak tidak sulit loh hanya mengangkat tangan dan menutup mulut ketika menguap, tidak melelahkan sama sekali."Sabil menegaskan.

"Jadi usahakan di mulai dari hal kecil kita memperhatikan perilaku kita supaya elok di pandang orang dan Allah suka itu." Sabil menambahkan.

"Padahal Rasya juga kalau melihat orang yang menguap lebar di depan banyak orang terus dia tidak menutup mulutnya sampai terlihat semua isi mulutnya kok rasanya gimana gitu Kak, tidak enak di lihat, apalagi kalau misalkan sebelumnya dia makan sesuatu yang menimbulkan bau.... Uuuhh... mantap sekali pasti aromanya." Papar Rasya sambil terkekeh.

"Tuh kan, kamu saja tidak suka melihat orang lain menguap lebar tanpa di tutup, makanya mulai sekarang kamu juga harus merubah kebiasaan burukmu itu." Kata Sabil menasihati Rasya.

"Hhmm... iya ya Kak. Aku sampai mikir gimana ya jadinya kalau aku menguap lebar terus tidak aku tutup, eehh ada binatang masuk ke mulutku..." Rasya pun menerawang.

"Hahahahahaha.... Pastinya itu bakal jadi santapan gratis mu dek." Sabil tertawa lebar.

"Kakak juga jangan tertawa terlalu lebar, nanti ada nyamuk masuk loh." Rasya tidak mau kalah.

"Uppss." Sabil pun refleks menutup mulutnya kemudian tersenyum.

"Semakin bangga aku menjadi generasi muslim. Indah banget Islam itu ya Kak. Sampai hal kecil pun tidak luput dari ajarannya."

"That’s right my brother." Jawab Sabil

"Oh iya Kak, tadi kakak juga menyebutkan juga tentang bersin. Itu gimana Kak ?" Rasya penasaran.

"Iya dek, kalau menguap adalah hal yang Allah tidak suka, makanya harus menahannya sebisa mungkin atau menutup mulut tatkala menguap. Kalau bersin, kita di haruskan mengucapkan hamdalah dan orang yang mendengarnya mendoakan."

"Baca yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu) ya untuk yang mendengarnya, lalu dibalas lagi oleh yang bersin yahdikumullah (semoga Allah memberikanmu petunjuk). Benar tidak Kak ?"

Belum sempat Sabil menjawab, Rasya kembali memberondongnya dengan pertanyaan.

"Kalau ada yang bersin lalu tidak membaca Hamdalah, berarti kita tidak wajib mendoakannya ya Kak ?"

"Benar dek baca doanya seperti itu dan memang tidak wajib mendoakan orang bersin yang tidak membaca hamdalah. Ada hadits seperti ini "Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka datanglah, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah nasihat, jika ia bersin lalu ia mengucapkan alhamdulillah maka doakanlah, jika ia sakit maka jenguklah, jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya [3]."

"Hmmm...."

"Kalau sedang shalat lalu bersin gimana Kak?"

"Di haruskan pula mengucapkan lafazh hamdalah dek."

"Kalau orang flu kan biasanya bersin-bersin terus tuh Kak. Apa harus terus mengucap hamdalah ?"

"Bersin karena sakit itu beda dek. Untuk pertama kita membaca hamdalah, kalau memang kemudian bersinnya terus menerus yang mengindikasikan flu maka tak wajib terus membaca hamdalah."

"Oh gitu ya Kak." Jawab Rasya sembari manggut-manggut.

"Jangan lupa ya dek, menutup mulut jika bersin dan menahan suaranya."

"Pasti donk Kak, kalau tidak di tutup mulutnya, bisa-bisa ada banjir kiriman lagi.... Hahahahaha..." Tawa Rasya menggelegar.

"... hahahahahaha..." Sabil pun ikut tertawa mendengar penuturan adik semata wayangnya yang kini telah memasuki jenjang SMP kelas satu.

"Kak, aku mau tanya lagi."

"Apa dek ?"

"Aku bingung nih. Allah tidak suka orang yang menguap tapi Allah suka bersin. Kenapa bisa begitu Kak ?" Tanya Rasya

"Bagus dek. Itu pertanyaan yang bagus sekali. Adik kakak sudah mulai kritis nih." Puji Sabil kepada adiknya.

"Kakak nih bisa saja. Aku jadi malu..."

"Jawab donk ka pertanyaanku."

Rasya terlihat tidak sabar mendengar apa yang akan di sampaikan kakaknya yang terpaut usia tujuh tahun dengannya.

"Singkatnya begini dek... Kalau menguap itu biasanya di sebabkan karena makan yang berlebihan, jadi Allah kurang suka makanya di katakan Allah tidak menyukai menguap. Karena makan berlebihan itu menimbulkan kemalasan dalam beribadah. Dan berlebihan adalah hal yang di sukai setan. Tapi kenyataannya kan, menguap itu tidak hanya karena berlebihan dalam makanan bisa juga karena mengantuk. Jadi sebaiknya tahan sebisanya jika menguap dan menutup mulut."

".... Terus kenapa bersin itu di sukai Allah, karena bersin itu dapat menyehatkan badan, menghilangkan keinginan untuk mengenyangkan perut dan membuat semangat untuk beribadah [4]."

Rasya manggut-manggut mendengar penjelasan kakaknya.

" Sip deh Kak. Hari ini aku dapat ilmu baru. Makasih banyak ya Kak."

"Sama-sama Rasya."

Dan keduanya saling melempar senyum.



Catatan Kaki:

1. HR. Muslim
2. HR. Bukhari
3. HR. Muslim
4. www.muslimah.or.id


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18769/menguap-vs-bersin/
Continue Reading...

Friday, March 9, 2012

6 Kondisi Dibolehkannya Ghibah

Ghibah Ghibah atau ghaibah berasa dari kata ghaib, yaitu karena orang yang diperbincangkan tidak ada, dan biasanya yang diperbincangkan adalah hal yang dia tidak suka. Dalam kondisi jaman sekarang konteks ghibah adalah menuturkan aib (cela) seseorang dibelakangnya.

Hukum dasar ghibah adalah dosa besar, karena termasuk kedalam Al Kabair. Ghibah termasuk dalam bentuk kedzaliman, yang termasuk dalam salah satu dosa besar. Bahkan, dapat dikategorikan lebih besar dari zina dan minum khamr. Hal ini disebabkan karena ghibah berkaitan dengan hak orang lain, yang penyelesaiannya harus diminta dimaafkan kepada orang yang bersangkutan. Sedangkan dosa kepada Allah, penyelesaiannya 'lebih sedikit syaratnya' yaitu menyesal, meminta ampun, dan berjanji tidak akan mengulangi.

"Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujuraat: 12)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat ghibah di atas mengatakan, "Ghibah (menggunjing) diharamkan menurut ijma'. Tidak ada pengecualian darinya kecuali jika ada mashlahat yang lebih, seperti dalam konteks jarh wa ta'dil dan nasihat."

Karena ghibah termasuk hukum syara' yang mempunyai sandaran (wadla') maka ghibah pun ada yang diperbolehkan dalam beberapa kondisi. Berikut ini adalah 6 kondisi diperbolehkannya ghibah sesuai hukum syariat Islam:

Pertama, Al-Tazhallum (mengadukan kezhaliman). Boleh bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan kezhaliman yang menimpa dirinya kepada penguasa, qadhi, atau yang memiliki otoritas hukum ataupun pihak yang berwajib lainnya. Ia dapat menuntut keadilan ditegakkan atas orang yang mezhaliminya dengan mengatakan, "Si Fulan telah melakukan kezhaliman terhadapku dengan cara seperti ini dan itu."

Kedua, Nahiy Munkar atau permintaan bantuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran meskipun yang melakukannya adalah seseorang yang alim terlebih orang awam, dengan mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu melakukannya, "Si Fulan telah berbuat begini, selamatkah dia darinya."

Ketiga, Al-Istifta (meminta fatwa) atau menanyakan hukum yang menyangkut kekurangan orang lain, seperti kepada ustadz yang memiliki pemahaman tentang hukum. Namun sebaiknya tidak dilakukan di depan umum, dan lebih baik jika disamarkan, tidak perlu menyebutkan identitas pelaku meskipun diperbolehkan. Misal seseorang mengatakan kepada seorang mufti (pemberi fatwa), "Si Fulan atau ayahku atau saudaraku atau suamiku telah menzhalimiku dengan cara begini. Apakah dia berhak berbuat seperti itu? Lalu apa yang harus aku perbuat agar aku selamat darinya dan terhindar dari kezhalimannya? Atau pernyataan apapun yang semacam itu. Maka ini hukumnya boleh jika diperlukan. Tapi lebih baik dia mengatakan, 'Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang, atau seorang suami, ayah, anak yang telah memperbuat hal seperti ini? Namun demikian menyebutkan secara rinci tetap boleh berdasarkan hadits Hindun dan aduannya, 'Sesungguhnya Abu Sufyan seorang laki-laki yang pelit.'"

Keempat, Tahdirul Muslimin Minal Syahr atau memperingatkan kaum muslimin dari keburukan. Hal ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya:
  • Menyebutkan keburukan orang yang buruk (jarh majruhin) dari kalangan perawi hadits, saksi ataupun pengarang. Semua itu boleh berdasarkan ijma', bahkan wajib sebagai langkah melindungi agama (syari'at) dari penyelewengan.
  • Membeberkan aibnya ketika bermusyawarah untuk menjalin hubungan dengannya (bisa dalam bentuk, kerjasama, pernikahan dan lainnya).
  • Apabila melihat seseorang membeli sesuatu yang cacat atau membeli seorang budak yang suka mencuri, berzina, mabuk-mabukan, atau semisalnya. Engkau boleh memberitahukannya kepada pembelinya jika ia tidak tahu dalam rangka memberi nasihat bukan untuk menyakiti atau merusak.
  • Apabila engkau melihat seorang pelajar (santri) yang sering bertandang kepada orang fasik atau ahli bid'ah untuk menuntut ilmu, dan engkau khawatir dia terpengaruh dengan sikap negatifnya, maka wajib engkau memberinya nasihat dengan menjelaskan keadaan orang tersebut semata-mata untuk menasihati.
  • Seseorang yang memiliki kedudukan namun tidak melaksanakan dengan semestinya karena bukan ahlinya atau karena kefasikannya, maka boleh melaporkannya kepada orang yang memiliki jabatan di atasnya agar dia memperoleh kejelasan tentang keadaanya supaya dia tidak tertipu olehnya dan mendorongnya untuk istiqamah.
  • Atau dalam kondisi sekarang, keburukan koruptor dijadikan headline di media-media sebagai shock therapy agar menjadi pelajaran dan membuat orang lain berpikir ulang untuk menirunya.

Kelima, untuk orang yang melakukan kemaksiatan terbuka. Jika seseorang khilaf melakukan kemaksiatan lalu bertaubat, maka kita wajib menutupi aib tersebut.
Namun jika ada orang yang bermaksiat, sudah diperingatkan tidak juga berubah, dan bangga dengan kemaksiatan tersebut, maka membicarakannya termasuk hal yang dibolehkan.

Keenam, dalam rangka ta'rif, yakni ketika ada seseorang memiliki ciri-ciri fisik yang merupakan kekurangan, dan dengan itulah dia dikenali, kita dapat menyebutkan kekurangan tersebut tanpa maksud merendahkan. Misalnya, ada orang datang kepada kita mencari orang yang bernama Ngajiyo, sedangkan Ngajiyo di RT kita ada 2 orang, Ngajiyo yang tangan kanannya buntung dan Ngajiyo yang tangannya normal. Maka orang yang mencari atau kita yang ditanyai boleh menuturkan, "Apakah Ngajiyo yang dimaksud itu Ngajiyo yang tangan kanannya buntung atau tidak?".

Demikianlah 6 kondisi diperbolehkannya ghibah (mempergunjingkan orang lain) sesuai syariat Islam. Semoga bermanfaat!
Continue Reading...

Wednesday, March 7, 2012

Beda Selebritis, Kyai, Ustadz, Ulama, dan Mufti Menurut Ustadz Ahmad Sarwat

Ulama Warisan Rasulullah Persoalan ustadz-ustadz di televisi yang berlagak seperti selebritis memancing komentar dari berbagai pihak. Setelah sebelumnya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin mengkritisi sejumlah ustadz di televisi, kini giliran Ustadz Ahmad Sarwat yang memberikan kritik serupa. Sebelumnya, beliau telah menyebutkan 12 Perbedaan Ustadz Yang Artis dan Ustadz Beneran.

Dalam status Facebook-nya per tanggal 22/11/2011, Ustadz Ahmad Sarwat kembali mengeluarkan statemen yang mengkritisi kondisi masyarakat yang tidak bisa membedakan berbagai istilah keagamaan.

"Dalam dunia kesehatan ada pembedaan terminologi yang jelas. Mulai dari tukang obat, paranormal, dukun, bidan, perawat, mantri, dokter, dokter spesialis, dan seterusnya. Tapi dalam dunia agama, masyarakat nyaris tidak bisa membedakan dan juga tidak tahu perbedaan antara penceramah, da'i, mubaligh, ustadz, kiayi, ulama, mufti, mujtahid, dan seterusnya. Pokoknya begitu ada orang pandai ceramah, langsung dipanggil 'ustadz,'" paparnya.

Kemudian beliau menerangkan perbedaan istilah-istilah di dalam dunia kedokteran.

"Jelas sekali perbedaan tukang obat dengan dokter spesialis. Modalnya tukang obat ya cuap-cuap sambil dikit-dikit ngibul, ngakunya punya obat yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Tapi dokter spesialis, modalnya adalah belajar tekun bertahun-tahun, dan hanya mereka yang gila belajar saja yang lulus diterima jadi mahasiswa di FK (Fakultas Kedokteran)."

Setelah itu, beliau memaparkan persoalan dalam istilah-istilah keislaman.

"Nah, bedanya orang yang biasa dipanggil dengan sebutan ustadz dengan tukang ceramah apa? Harus ada bedanya dong. Tukang ceramah itu bermodal pandai ngomong, bergaya, bikin yel-yel, terus pura-pura doa yang bisa bikin hadirin menangis, dan seterusnya, dan seterusnya. Harusnya ustadz bukan tipe yang seperti itu. Ustadz itu minimal tiap hari baca 100-200 halaman kitab syariah, spt tafsir, hadits, fiqih, dan lain-lain."

Beliau menyebutkan beberapa istilah untuk diketahui masyarakat umum.

Ustadz itu hanya boleh dipersembahkan kepada para ahli ilmu agama dengan kapasistas ilmu yang mumpuni serta standar moral yang tinggi. Bukan seleb dipoles oleh TV dan tiba-tiba simsalabim jadi ustadz. Dalam pandangan saya, itu cara ilegal dalam merusak umat, sebuah inovasi terbaru dari gaya lama belanda ketika mengorbitkan Dr. Snouck Hurgronje untuk mengobok-obok umat Islam dari dalam.

Kiyai, lebih merupakan panggilan penuh hormat kepada orang yang lebih dituakan. Dalam beberapa komunitas sosok kiyai memang tidak selalu harus ahli agama. Sebab di Jogja ada sapi dipanggil dengan sebutan kiyai. Tapi kalau di dalam kultur pesantren, kiyai biasanya panggilan buat sosok yang sangat dihormati, seperti kiyai pondok, meski tidak berarti dia ahli dalam ilmu agama.

Ulama, ahli ijitihad yang memenuhi semua syarat dalam melakukan proses ijtihad. Contohnya Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad bin Hanbal dan para muridnya. Sedangkan ulama di masa sekarang, sebenarnya boleh dibilang hampir sudah tidak ada lagi. Kalau pun ada yang kita sebut ulama, lebih merupakan panggilan penghargaan saja.

Mufti, ahli ilmu agama yang ilmunya sangat luas, dimana tugasnya adalah menjawab pertanyaan masyarakat tentang halal haram dan sebagainya. Mufiti harusnya seorang dengan kapasitas ilmu seperti para ulama, agar dia tidak sesat dan menyesatkan.

Dalam mencontohkan ustadz di televisi yang lebih suka menarik massa, beliau menganalogikannya dengan tukang jual obat di pinggir jalan.

"Yang saya maksud dengan tukang obat ya itu, yang suka gelar dagangan di pinggir jalan, bikin kerumunan massa di terminal, mirip film 'Benyamin Tukang Ngibul'," kata beliau sembari bercanda.

"Masyarakat awam lebih tertarik berkerumun di sekitar tukang obat yang pandai ngibul itu. Karena bicaranya sangat meyakinkan, kayak ilmunya jauh di atas para dokter. Gila nggak, mereka bilang kanker separah apapun, asal pakai obatnya dia, PASTI LANGSUNG SEMBUH! Padahal di RS (Rumah Sakit), para dokter ahli yang botak-botak itu masih kebingungan gimana melawan penyakit itu. Masyarakat awam lebih memilih tukang obat, mereka lebih suka PONARI dengan batu ajaibnya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..,"

"Di dunia dakwah, keadaannya mirip banget. Masyarakat berkerumun di seputar para tukang ceramah TV alias seleb ngaku ustadz itu. Mungkin karena memang pandai bicara sehingga pengusaha TV itu memanfaatkannya untuk menaikkan rating. Dan produser infotainment punya bahan issue baru yang sensasional, yaitu para ustadz seleb yang mencoreng wajah dakwah. Gila banget tuh TV, para artis yang ngaku ustadz itu sering dikasih tag-line ULAMA!"

Tidak hanya mengkritisi para ustadz seleb tersebut, Ustadz Ahmad Sarwat juga mengkritisi para pemilik stasiun TV yang hanya mementingkan rating siaran, bahkan mempertuhankannya.

"Seolah-olah atas nama RATING TV orang jadi merasa berhak bicara apa saja meski pun isinya kebatilan. Huh benar-benar KAPITALIS MURNI. Dan ustadz dadakan alias seleb ngaku ustadz itu pun salah satu dampak negatif dari keberhalaan rating TV dan negara yang semakin jelas ideologi kapitalisnya."

Setelah itu, beliau menuturkan salah satu solusi bagaimana dakwah di televisi tetap berada dalam koridor syariat Islam.

"Teman baik saya ada yang usul bahwa tiap orang yang mau tampil ceramah di TV harus punya SIC (Surat Izin Ceramah), tapi yang mengeluarkan bukan Koramil atau Polisi. Yang mengeluarkan surat itu, misalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jadi, para seleb itu musti dites berbagai hal, mulai dari kapasitas ilmu, sampai moral dan akhlaqnya juga. Baru boleh muncul di layar kaca. Dan ada komisi pemantau kelayakan penceramah TV, yang kerjanya menilai dan memantau mereka, dianggotai oleh para ulama betulan yang punya kapabilitas."

Untuk benar-benar menjadikan ulama sebagai rujukan dalam hal keagamaan, bukan oleh para ustadz seleb, Ustadz Sarwat mengusulkan agar para ulama benar-benar diwadahi dalam lembaga yang independen."

"Saya bilang gini aja, para ulama betulan itu membentuk seperti apa yang dulu pernah dilakukan di negeri kita, waktu banyak muncul pendakwah gadungan produk impor yang tidak jelas, kerjanya bikin keonaran disana-sini. Wadah itu tempat berkumpulnya para ulama betulan yang ilmunya memang paten. Wadah itu bukan milik pemerintah, tidak berlaku topdown yang melarang ini dan itu, tapi wadah itu murni milik umat dan bisa dijadikan indikator serta rujukan umat dalam masalah agama. Bahkan wadah itu bisa sampai mengirim delegasi ke Arab untuk menekan penguasa disana agar tidak mensupport para pendakwah yang bikin onar dimana-mana."

Beliau, secara pribadi mendukung agar para ustadz tetap muncul di TV, media massa, ataupun media sosial. Namun, yang harus diperhatikan adalah bahwa dia itu adalah ustadz sesungguhnya, bukan abal-abal yang ngaku ustadz.

Sebagai contoh, beliau menyebutkan seringnya orang-orang yang ngaku ustadz itu berbicara tanpa dasar.

"Yang disampaikan oleh artis ngaku ustadz itu jauh dari hadits nabi. Sepanjang yang saya perhatikan, tak satu pun yang membawakan satu pun hadits dengan menyebutkan sanad dan matannya, apalagi al-hukmu 'alal-hadits. Kebanyakan asal cablak aja. Makanya, Kyai Ali Mustafa Yaqub marah besar begitu tampil di TV dengar ada seleb ngaku ustadz ngutip-ngutip kalimat yang dia bilang hadits, ternyata bukan. Nah, menyampaikan hadits nabi saja harus punya ilmu hadits, apalagi ilmu syariah," katanya.


Sumber: http://www.fimadani.com/beda-selebritis-kiayi-ustadz-ulama-dan-mufti-menurut-ustadz-ahmad-sarwat/
Continue Reading...

Tuesday, March 6, 2012

12 Perbedaan Ustadz Artis dan Ustadz Beneran

Mendadak Ustadz Artis Ustadz yang sudah dikenal oleh banyak peselancar dunia maya maupun nyata, Ustadz Ahmad Sarwat Lc., Senin 21/11/2011 menuliskan sebuah status yang cukup menarik di laman Facebook pribadinya.

Ia mengkritisi para ustadz yang tampil di televisi dan jauh dari nilai dan prinsip seorang ustadz yang berdakwah. Ia pun lantas menyebutkan "12 Perbedaan Ustadz Yang Artis dan Ustadz Beneran":

  1. Artis butuh manager, tapi ustadz butuh perpustakaan.
  2. Artis lewat manager minta bayaran tinggi dan pakai tarif, tapi ustadz lebih sering dibayar dengan ucapan "syukran" (terima kasih, bhs. Arab).
  3. Artis tampil sesuai selera dan permintaan pasar, tapi ustadz menyampaikan risalah langit.
  4. Artis tidak belajar ilmu agama, tapi ustadz wajib nyantri dan kuliah bertahun-tahun.
  5. Artis haus popularitas, tapi ustadz haus ilmu dan hidayah.
  6. Artis hidup akrab dengan dusta, gosip dan kepalsuan, ustadz akrab dengan kewara'an (kehati-hatian, bhs. Arab), kesederhaan dan kerendahan hati.
  7. Artis mengumpulkan penonton yang membeludak, ustadz mendidik dan melahirkan calon ulama.
  8. Artis butuh yel-yel, kostum, joget, nyanyi dan akting, ustadz mengajar lewat hati.
  9. Artis ceramah biar orang tertawa menangis dan menghibur, ustadz mengajarkan ilmu agar Allah turunkan hidayah.
  10. Artis butuh media, TV dan wartawan khususnya infotainment, tapi ustadz butuh majelis ilmu, kitab dan perpustakaan.
  11. Artis sering jadi bintang iklan, tapi ustadz lebih suka bicara kebenaran.
  12. Artis dikerumuni sesama artis dan fans, sementara ustadz dikerumuni orang-orang yang ingin mengaji dan mensucikan diri.

Ustadz Ahmad Sarwat ‎kemudian menjelaskan bahwa seorang ustadz yang belajar agama itu bukan sekadar mengaji satu dua kali saja.

"Yang dimaksud dengan belajar agama itu bukan sekedar pernah nyantri atau ngaji atau sekedar dengerin ceramah doang, tetapi maksudnya harus menguasai ilmu aqidah, ulumul-quran dan ulumul hadits, ilmu tafsir, qiraat, ilmu hadits, kritik hadits (naqd), ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih, perbandingan mazhab, fatwa ulama klasik dan kontemporer. Dan yang paling dasar adalah ilmu bahasa Arab yang maha luas itu, mencakup ilmu balaghah, manthiq, bayan, adab, dan tentunya juga nahwu dan sharaf, dan seterusnya, dan seterusnya.. Butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar ilmu agama."

Kemudian beliau menceritakan keprihatinannya atas tarif yang dipatok oleh para ustadz artis tersebut. Bahkan beliau mengalaminya sendiri.

"Ramadhan kemarin ada panitia ceramah yang ngaku terus terang ke saya bahwa seharusnya yang diundang bukan saya, tapi ustadz X. Tapi gagal gak jadi diundang lantaran pihak manager gak mau turun lagi TARIF-nya dari angka 30 juta untuk ceramah 15 menit menjelang buka puasa. Akhirnya yang diundang saya yang bisa dikasih 'syukron' (terima kasih, bhs. Arab) doang,' terangnya.

Kemudian beliau menyebutkan salah satu solusi atas kurangnya ustadz yang benar-benar ustadz.

"Sebenarnya kita punya banyak calon ulama di masa mendatang, sayang mereka kurang digarap dengan baik. Misalnya yang paling mudah, kita punya 3000-5000 mahasiswa di Mesir dan sekitarnya. Sayangnya, tidak semua ingin jadi ulama. Sebagiannya lebih suka kerja di bidang-bidang yang tidak ada kaitannya dengan keulamaan. Ada yang jual madu, jasa bekam, travel haji umrah, atau jadi tukang ruqyah, politisi, dan seterusnya, dan seterusnya..."

"Ya tidak ada yang melarang sih, semua boleh-boleh aja sih. Tapi di zaman kita lagi sangat krisis ulama, mestinya yang udah diberi kesempatan belajar sampai ke Al-Azhar bisa rada mikir dikit lah. Mereka kuliah itu kan dibiayai waqaf umat Islam, kok sepulangnya ke Indo malah kagak jelas arahnya? Afwan buat adik-adik mahasiswa di Mesir, bukannya nyindir, tapi memang nuduh sih..," sindirnya sambil tersenyum.


Sumber: http://www.fimadani.com/ahmad-sarwat-ustadz-selebritis-mematok-tarif-rp-30-juta-per-15-menit/
Continue Reading...

Thursday, December 8, 2011

Tips Ajari Anak Tata Cara Perilaku Islami Sejak Dini

Anak Sholeh Berikut ini adalah #KulTwit dengan hash tag #AjariAnak yang dituliskan oleh seorang sahabat @bayuprioko di Twitter.

Inti dari #KulTwit ini adalah berisi tips-tips mengajari anak tata cara perilaku Islami sejak dini. Menarik bukan? Yuk, simak yuk.. ;)

1. Biasakn mengambil & memberi makan-minum dgn tangan kanan. Jika dgn tangan kiri, pindahkn ketangan kanannya secara halus. #AjariAnak

2. Mendahulukan mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri. #AjariAnak

3. Jgn tidur tertelungkup, krn menghambat pernafasan dan dibiasakan tidur dengan miring ke kanan. Agar posisi jantung diatas. #AjariAnak

4. Biasakn tdk memakai pakaian/celana yg pendek2, agar anak tumbuh dgn kesadaran menutup aurat & malu membukanya. #AjariAnak

5. Dicegah dgn halus agar tdk menghisap jari & menggigit kukunya. Kuku anak cenderung kotor. #AjariAnak

6. Dibiasakan Sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap berlebih2an & tdk habis. #AjariAnak

7. Agar anak2 tidk bermain dengan hidung & telinganya, apalagi memasukkan benda2. #AjariAnak

8. Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan. Alhamdulillah ketika selesai makan. #AjariAnak

9. Dibiasakan untuk mengambil makanan yg terdekat & tidak memulai makan sebelum orang lain atau diizinkn *makanbersama*. #AjariAnak

10. Ajari utk tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan. #AjariAnak

11. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa, agar mengunyah makanan dengan baik. #AjariAnak

12. Dibiasakan menawarkan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yg tidak ada. *agaksusahmaksudnya :)* #AjariAnak

13. Dibiasakan kebersihan mulut dgn menggunakn siwak, sikat gigi stelah makan, sebelum tidur & sehabis bangun tidur. #AjariAnak

14. RT @dianyhamidah: @bayuprioko mengajari anak makan memakai tangan kanan & jangan meniup makanan krna rasulullah melarang #AjariAnak

15. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari. #AjariAnak

16. Dibiasakan membaca "Alhamdulillah" jika bersin & mengatakan "Yarhamukallah" kepada orang yg bersin jika membaca "Alhamdulillah". #AjariAnak

17. Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara. #AjariAnak

18. Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan atau pujian, sekalipun hanya sedikit. #AjariAnak

19. Tidak memanggil ibu & bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak). #AjariAnak

20. Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan. Selalu berpegangan tangan. #AjariAnak

21. #AjariAnak mengucapkan salam kepada orang yg dijumpainya serta membalas salam orang yg mengucapkannya

22. Dalam #AjariAnak, hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kpd anak jika menuruti perintah & menjauhi larangan.

23. #AjariAnak mengenal tentang Allah 'Azza Wajalla dengan cara yg sesuai dengan pengertian dan tingkat pemikirannya.

24. #AjariAnak bahwa Allah Pencipta segala sesuatu. Pencipta langit, bumi, manusia, hewan, pohon-pohonan, sungai dan lain-lainnya.

25. #AjariAnak cinta kpd Allah, dengan ditunjukkan kepadanya nikmat2 yg dikaruniakan Allah untuknya & untuk keluarganya. Alhamdulillah

26. #AjariAnak utk menutup aurat, berwudhu, hukum2 thaharah (bersuci) dan pelaksanaan shalat.

27. #AjariAnak biasakan membaca Al Quran dengan benar, dan diupayakan semaksimalnya agar menghafal juga

28. Agar maksimal #AjariAnak Alquran, usahakan masukan anak pesantren Tahfidz, minimal masukkn pada salah satu halaqah tahfizh

29. Anak sering bersikap durhaka & melanggar hak2 orangtua disebabkan karena kurangnya perhatian orangtua dalam #AjariAnak

30. Ya Rabb, kasihilah mereka keduanya (ibu-bapak), sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku swaktu kecil. (QS:17:24). #AjariAnak

31. #AjariAnak tokoh teladan utama yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, kemudian para sahabat yg mulia Radhiallahu 'Anhum

32. Sejatinya #AjariAnak adalah #AjariKita sebagai ortu atau calon ortu, dia butuh contoh. Bingkai Alqur'an dan Sunah.


Gimana, menarik kan "Tips Ajari Anak Tata Cara Perilaku Islami Sejak Dini" ini? Nah sekarang saatnya kita praktek! Demi terciptanya generasi penerus ummat Islam yang sholeh, sehat, dan cerdas! Aamiin... ;)
Continue Reading...
 

Catatan Mami Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon. SEO improved by Apa Dong (dot) Web (dot) ID